Sejarah Kain Batik dari Berbagai Negara

Sejarah “Batik” Negara Lain

Berdasarkan sejarah seni pewarnaan kain dengan perintang warna menggunakan lilin atau malam itulah, maka wajar jika selain di Indonesia juga dapat dijumpai budaya “membatik” di negara-negara lain.

Batik di indonesia juga sudah dikenal banyak negara bahkan sudah ada yang belajar seni membatik ke indonesia untuk di bawa negaranya.

tempat pabrik batik disragen sering menjadi salah satu oyek pembelajaran.

Selain di Indonesia, seni pewarnaan kain dengan perintang warna menggunakan lilin atau malam juga dapat dijumpai, seperti di Tiongkok, India, Arab, Jepang, Belanda, Afrika Selatan, Malaysia, Thailand, Sri Lanka, dan Azerbaijan.

Tiongkok

Seni pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing mulai tumbuh di Tiongkok pada masa Dinasti Sui (antara tahun 581 hingga 618 Masehi).

ditelusuri lebih jauh lagi, awal mula seni pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing di Tiongkok berawal pada masa Dinasti Han (antara tahun 206 Sebelum Masehi hingga 24 Masehi).

Namun demikian, seni pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing paling berkembang di Tiongkok pada masa Dinasti T’ang.

Teknik wax-risest dyeing dalam segi pewarnaan alami pasa masa itu sangat disenangi oleh pemimpin negeri tiongkok karena memang sangat menarik.

la bahkan memerintahkan ahli seninya berkeliling ke berbagai negeri untuk mempelajari seni pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing di Balkhan, Karakorum, dan Turkestan Timur.

Tradisi mirip membatik di Tiongkok tersebut dapat ditemukan di Provinsi Guizhou.

Di provinsi ini, masyarakat etnik Miao, Bouyei, dan Gejia secara turun-temurun mempertahankan tradisi “membatik”.

Para gadis mulai belajar membuat batik sejak usia atau 7 tahun.

di usia sedini itu mereka sangat mahir dalam membuat desain yang berbentuk spiran melingkar dan bebentuk ganda di kain.

dengan motif gambar atau bentuk tanduk kerbau yang di desain berbentuk spiral.

itulah yang mereka tuangkan untuk melambangkan kehidupan para nenek moyang mereka terdahulu.

 

Filosofi batik Tiongkok

Batik Tiongkok yang dibuat pada masa Dinasti T’ang dengan teknik wax-resist dyeing disebut Miao.

Desain yang lebih tradisional adalah motif geometris dan garis biru pada kain putih.

Dengan pengaruh dari Dinasti Han, desain yang lebih figuratif seperti bunga, burung, dan ikan telah berkembang selama berabad-abad.

Batik Tiongkok pada awalnya menghadirkan desain dengan motif-motif satwa seperti burung phoenix, naga, dan kura-kura.

Semua ragam hias tersebut kerap didominasi dengan warna merah atau diselipkan juga warna biru,

Baru sekitar tahun 1910, batik Tiongkok mulai menampilkan motif-motif bunga.

Khas dengan warna yang variatif dan cerah adalah salah satu corak batik dari negeri tiongkok.

Motif yang sering dipakai seperti burung hong, burung merak, dan naga.

Wanita tiongkok mempunya ciri khas dalam memakai busana.

batik yang berbentuk sarung diserasikan dengan kabaya encim dari zaman dulu hingga saat ini masih dijadikan tradisi.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *