sejarah batik

SEJARAH BATIK DI INDIA – JEPANG – ARAB

Sejarah batik di India

India

Seni pewarnaan kain dengan perintang warna menggunakan lilin atau malam juga dapat ditemukan di India Selatan.

Kegiatan membatik di India ini baru mulai digalakkan sekitar tahun 1516 di daerah Palikat dan Gujarat. Tempat itu dikenal dengan pantai utara Malabar.

Di tempat itu dibuat sejenis kain batik dalam bentuk lukisan menggunakan lilin.

Kain batik berupa lukisan menggunakan lilin yang dihasilkan tersebut dipasarkan ke Malaya yang kemudian dikenal dengan nama “batik palikat”.

Perkembangan batik India mencapai puncaknya pada abad ke-17 hingga ke-19.

Batik India sebenarnya adalah seni pewarnaan yang menerapkan ragam hias wastra dari India, yaitu kain patola dan chintz atau sembagi.

Batik India ini merupakan pengembangan dari motif kain patola yang berbentuk geometris. Batik ini biasanya berbentuk bintang atau mata angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segiempat.

Berbeda dengan proses membatik di Indonesia, pemberian warna pada proses membatik di India memakai cairan panas atau mendidih.

Sementara itu, alat yang di gunakan untuk membuat ragam hias tidak menggunakan canting, tetapi menggunakan stempel atau pena kayu.

Sejarah batik di Arab

Arab juga mempunyai tradisi mewarnai kain dengan perintang warna menggunakan lilin atau malam. Nuansa islami dalam batik Arab ini tampak pada pilihan ragam hiasnya.

Larangan untuk menggambar makhluk hidup seperti binatang dan manusia menurut ajaran Islam, mendorong perajin batik Arab menciptakan motif hias geometris.

Pilihan ragam hias pada batik Arab dan sebenarnya menggambarkan bentuk kosmologis dengan mengetengahkan pola motif ragam hias ceplokan bentuk lung-lungan dan bunga padma.

Batik ini biasanya berbentuk di bintang atau mata angin dan menggunakan es ranting yang ujungnya berbentuk segiempat.

Sejarah batik di Jepang

Tradisi mewarnai kain dengan perintang warna di Jepang sebenarnya sudah berkembang sejak zaman Dinasti Narayang.

Namun, tradisi tersebut sempat ditinggalkan atau menghilang. Perintang warna yang sering digunakan adalah beras pasta yang disebut “tsutsugaki”.

Batik Jepang yang dihasilkan melalui teknik wax-resist dyeing dengan cara dilukis atau cap disebut “ro-kechi”. Sedangkan batik Jepang yang dibuat dengan cara pecahan seperti pada batik Wonogiren disebut “katanori”.

Batik Jepang mempunyai pilihan warna cemerlang atau cerah seperti warna merah dan kuning.

Ciri khusus yang lain, batik Jepang memiliki latar belakang warna yang jelas atau tegas, sedangkan ragam hias atau motifnya yang paling dominan adalah bunga dan kupu-kupu.

Walaupun kupu-kupu tidak memiliki arti secara khusus dalam masyarakat Jepang, namun ragam hias ini sangat sering digunakan dalam batik Jepang.

Konon, motif kupu- kupu merupakan pengaruh dari Tiongkok. Kupu-kupu merupakan lambang cinta abadi bagi orang Tiongkok.

Motif bunga yang paling sering muncul pada batik Jepang adalah bunga sakura atau cherry dan krisan.

Namun, motif bunga-bunga lain seperti mawar, lili, ataupun teratai juga kadang-kadang digunakan.

Selain motif bunga, motif burung juga terkadang muncul pada batik Jepang. Dalam budaya masyarakat Jepang, motif burung merak merupakan lambang keindahan dan keanggunan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *