sejarah batik

SEJARAH BATIK DI BERBAGAI NEGARA : BELANDA – AFRIKA-

Sejarah Batik di Belanda

Seni pewarnaan kain dengan teknik  wax-resist dyeing yang dikembangkan oleh masyarakat Belanda sama dengan tradisi membatik yang tumbuh di Indonesia.

Tidak hanya sama dalam teknik pembuatannya, namun pada periode awal juga mirip dalam pilihan motif dan ragam hiasnya.

Hal ini tentu saja karena Belanda pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun. pabrik batik di solo dan sragen salah satu sejarah yang hingga saat ini masih ada.

Akulturasi budaya pada masa penjajahan inilah yang memungkinkan batik Belanda mempunyai banyak kemiripan dengan batik Indonesia.

Batik Belanda tumbuh dan berkembang antara tahun 1840 hingga 1940. Untuk busana sehari-hari, orang Belanda pada mulanya mengenakan busana chintz dari India.

Saat terjadi penurunan impor busana chintz pada awal abad ke-19, banyak orang Belanda beralih ke batik. Motif batik yang mereka  menyerupai chintz atau ragam hias aneka bunga atau buketan, burung, angsa, kupu-kupu, pesawat terbang, bangunan, sosok manusia, atau dongeng Eropa.

Periode awal batik Belanda hanya menampilkan warna merah mengkudu dan biru indigo, baik biru muda maupun biru tua.

Selain itu, corak batiknya masih banyak menampilkan ragam hias mirip lereng dan lung-lungan, serta bertema dongeng.

Seiring dengan perkembangan zaman, corak batik seperti itu tidak tampak lagi dan digantikan oleh ragam hias yang benar-benar bernuansa Eropa (europa ) atau Belanda.

Pada perkembangannya, batik Belanda menampilkan ragam hias rangkaian bunga-bunga, buketan besar, ataupun burung bangau di tengah rumpun tanaman air.

Pola warnanya pun bergeser ke arah warna yang lebih dari dua warna, terutama ketika mereka mulai menggunakan zat warna sintetis.

Menjelang puncak perkembangannya (antara tahun 1890-1910), dengan diprakarsai oleh Franquemont, batik Belanda tampil dengan pola baru.

Banyak terjadi perubahan dalam hal penataan pola batiknya.

Ragam hias tumpal yang pada awalnya sangat dominan digantikan oleh untaian bunga atau ragam hias renda yang berfungsi sebagai batas antara bagian kepala dan bagian badan sarung.

Pada periode ini, dari segi keindahan visual, batik Belanda menghadirkan karya-karya seni budaya yang sangat tinggi nilainya.

 Sejarah Batik di Afrika Selatan

Keterampilan membatik ternyata juga tumbuh Afrika Selatan. Wajar jika di berbagai kesempatan, Nelson Mandela sering terlihat mengenakan kemeja bermotif batik dengan warna-warna yang cerah. Corak dan ragam hias pada batik Afrika Selatan sangat mirip dengan batik yang ada di Jawa.

Hal tersebut dapat terjadi karena pada saat penjajahan Belanda di Indonesia, banyak pekerja paksa Jawa yang diangkut Perusahaan India Timur Belanda Cape Barat, Afrika Selatan.

Para pekerja ini membawa dan mengajarkan tradisi memproduksi kain batik kepada masyarakat Afrika Selatan (south Africa)

.

Perkembangan selanjutnya, masyarakat Afrika Selatan mengadaptasi batik tradisional Jawa dengan menggunakan warna dan motif khas Afrika.

Keterampilan membatik merupakan tradisi keluarga yang diwariskan kepada generasi penerus secara turun-temurun sebagai industri rumah tangga.

Motif batik Afrika Selatan yang digunakan pun beragam yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pada batik Afrika Selatan juga ditemukan motif ukiran, kegiatan, dan gambar tradisional sejarah suku negara tersebut.

Pewarnaan batik di Afrika Selatan masih menggunakan pewarna alami yang berasal dari tanaman nila. Proses mewarnai kain dapat dilakukan dengan dua metode.

Metode pertama, yaitu pewarnaan dengan menggu nakan lilin. Metode kedua, yaitu pewarnaan dengan menggunakan teknik gumpalan pati.

Gumpalan pati ini biasanya terbuat dari tepung tapioka, beras, tawas, atau tembaga sulfat yang dididihkan bersama dengan bahan yang lainnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *